Corona Effect : 30 Prediksi Perilaku Konsumen di NEW NORMAL

Berikut ini adalah 30 prediksi  mengenai perubahan perilaku konsumen di kenormalan baru (New Normal) selama dan setelah COVID-19 berlalu yang ditulis oleh Bpk. Yuswohady dari Inventure Indonesia sebuah lembaga konsultan dan riset bidang marketing, ke-30 prediksi beliau yakni :

#1. The Fall of Mobility, The Rise of Stay @ Home

Wabah praktis menghentikan mobilitas dan memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. “the death of mobility“. Krisis COVID-19 membawa manusia seperti kembali ke zaman purba dimana hidupnya hanya di gua, yaitu rumah. “Welcome stay @ home economy.”

#2. Online-Shopping Widening+Deepening: From Wants to Needs

Pembelian online (online shopping) mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs). Belanja online konsumen melebar (wideningdari  barang-barang non-esensial ke esensial (daily needs). Dan mendalam (deepening) dimana volume pembeliannya makin besar. 

#3. Food Delivery: From “Indulgence” to “Utility”

Konsumen menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery. Selama ini konsumen memanfaatkan layanan delivery untuk jenis makanan “indulgence” yaitu untuk pleasure dan enjoyment (seperti: boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek) akan bergeser ke “utility” untuk kebutuhan rutin sehari-hari. Dari pemesanan sesekali (occasional) ke pemesanan berulang (habitual/routine).

#4. The Comeback of Home Cooking

Memiliki waktu cukup luang di rumah selama pandemi memberikan kesempatan bagi milenial mengasah keahlian baru yaitu masak. Dalam Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan milenial “membunuh” home cooking karena emak-emak milenial semakin kehilangan kemampuan memasak. Namun rupanya COVID-19 “menghidupkannya” kembali. 

#5. Frozen Food: Convenience Solution

Emak-emak milenial sudah terlanjur tidak piawai memasak. Walaupun stay @ home menjadi momentum comeback-nya kebiasaan memasak, namun gaya memasak milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka memasak yang simple dan convenient. Maka frozen food dan kemasan ready to cook akan menjadi pilihan. 

#6. Going Omni

Dengan matangnya online shopping akibat COVID-19, maka brand-brand besar-menengah-kecil mulai hadir dengan platform omni channel-nya sendiri baik via website atau e-commerce dan tentu physical channels. Mereka tak bisa lagi cuma mengandalkan marketplace besar yang sudah ada. Ingat, customer data is the new gold.

#7. Subscription Model Matters

COVID-19 memaksa konsumen membeli dan mengonsumsi secara serba online: Belanja grocery, menikmati film/musik, membeli makanan, bekerja dan belajar, bermain games, bahkan berolahraga dan yoga pun melalui live class secara online. Tak hanya, belanja online itu dilakukan secara rutin tiap hari atau berkala tiap minggunya. Karena kebutuhannya rutin dan terus menerus, model pembelian berlangganan akan lebih cocok dan efisien. Subscription model will matter.

#8. TV Strikes Back

Dalam buku Milenial Kills Everything (2019) kami mengatakan bahwa milenial telah membunuh televisi. Tapi, COVID-19 telah menghidupkannya kembali, khusunya smart TV. TV memiliki keunggulan dasar yang tak mungkin dimiliki smartphone yaitu layar besar yang lebih ramah dilihat. Karena itu memasuki era “the death of mobility” akibat social distancing, TV menemukan momentumnya kembali. 

#9. DIY & Self-Care @ Home

Ketika konsumen sudah terbiasa dengan stay @ home maka mereka mulai mencoba berbagai hal baru yang menyenangkan. Salah satunya melakukan self-care atau peremajaan diri seperti facial, meni-pedi, spa. Maka tren do it yourself (DIY) ini dapat menjadi kenormalan baru dan 

pembelian produk-produk self-care secara otomatis mengalami kenaikan. 

#10. Zoomable Workplace @ Home

Work from Home memunculkan tren baru “zoomable workplace di rumah. Kalau sebelumnya populer istilah “instagramable” maka kini ada istilah tempat kerja di rumah yang “zoomable“. Tren ini dipicu oleh popularitas aplikasi Zoom untuk meeting virtual. Mendekorasi ruang kerja yang eye-catching sebagai background meeting. IKEA atau Informa bakal makin ramai pembeli. Tanpa disadari hal ini telah menjadi kebutuhan self-esteem. 

#11. “Work-Live-Play” Balance: Well-Being Revolution

Ketika work from home (WFH) dan flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, maka batas waktu antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan parenting ke anak (living), dan menikmati leisure time (playing) menjadi kian kabur. Karena karyawan mengatur waktunya sendiri, maka mereka bisa mengatur keseimbangan working-living-playing dengan lebih baik. Hal ini akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan hidup (well-being). 

#12. The Century of Self Distancing

Begitu wabah COVID-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru. Akankah cipika-cipiki atau jabat-tangan punah dari muka bumi?  

#13. Contact-Free Lifestyle

Self distancing yang permanen akan melahirkan gaya hidup baru yaitu: “contact-free  lifestyleBelanja dilakukan secara online untuk menghindari paparan virus. Menerima barang dari layanan antar cukup di depan pintu tanpa kontak fisik. Menghindari kerumunan seperti nonton konser musik atau event olahraga yang syarat kontak fisik. Menghindari olahraga yang “contact-intensive” seperti gulat, tinju, karate, bahkan sepakbola. Jarak antar kursi di pesawat atau bioskop akan lebih lebar. 

#14. Low-Trust Society

Krisis Covid-19 juga turut membuat kecurigaan antar warga meningkat di masyarakat. Beberapa kasus penolakan jenazah positif COVID-19; pengusiran tenaga kesehatan karena takut tertular; atau penolakan pemudik oleh masyarakat di kampung saat lebaran, menciptakan kondisi yang saya sebut “low-trust society“. Social distrust di antara anggota masyarakat akan semakin tinggi.

#15. Constantly-Fear Customers

Di tengah krisis dan ketidakpastian. Orang mengalami kekacauan mental healthiness sehingga menjalani hari-hari dalam ketakutan. Takut akan krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut,takut tak mampu bayar hutang bank, takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa. 

#16. Jamu Is the New Espresso

Jamu menjadi minuman yang paling banyak dicari saat ini. Ketika para ahli mengatakan bahwa mpon-mpon yang merupakan bahan dasar minuman jamu dapat menangkal virus COVID-19, jamu langsung laris manis di pasaran. Wabah COVID-19 menjadikan jamu sebagai lifestyleJamu is the new espresso. 

#17. Halal (Thoyyiban) Becomes Mainstream

Kita tidak tak akan pernah lupa dengan kota Wuhan terutama pasarnya yang menjadi awal mula penyebaran virus. Khususnya kaum muslim, bayangan muram pasar Wuhan adalah wujud dari penyiapan dan pengolahan makanan yang tidak mengikuti prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. Maka COVID-19 pun membawa hikmah bagi kaum muslim, yaitu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya halal dan thoyyiban.

#18. Paylater Solution

DI tengah kecemasan dan ketidakpastian akibat COVID-19, sebisa mungkin konsumen membatasi atau menunda pengeluaran yang bersifat cashIn time of crisis cash is king. 

Maka layanan paylater yang diberikan oleh bank, perusahaan fintech, dan platform ecommerce seperti GoPay, OVO, atau Tokopedia menjadi solusi bagi konsumen untuk berbagai transaksi. 

#19. The Future of Traveling

Bahkan ketika ancaman virus terus mengintai, kita tetap akan berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Travellers kian sadar melakukan self social distancing. Karena itu staycation dan wellness tour akan menjadi pilihan. Travelling kian menjadi aktivitas individual bukan lagi grup. Niche tourism lebih berkembang daripada mass tourism. Dan virtual tourism dengan teknologi VR (virtual reality) akan berkembang pesat.  

#20. Virtual Experience Is the Nex Big Thing

Konser musik, event olahraga, hingga konferensi/pameran dibatalkan di seluruh dunia. Sebagai gantinya: virtual concert, virtual sport, virtual conference/seminar, virtual exhibition. Ketika self distancing bakal berlangsung lama, maka virtual experience akan menjadi sesuatu banget. Keunggulannya: “more efficent, more convenient, more personal”.

#21. The Emerging VirSocial

Aktivitas bersama-sama baik nongkrong, olahraga, senam, meditasi dan yoga, hingga nge-game dilakukan secara virtual. Kami menyebutnya “VirSocial” (virtual social). Beberapa minggu terakhir misalnya, marak aktivitas “nongkrong” temen-teman sekantor, sekampung, sekomunitas, atau sesama alumni SD hingga kuliah yang dilakukan via Zoom. Ini adalah kebiasaan baru yang sebelumnya tak dikenal.  

#22. Flexible Working Hours: From “9-to-5” to “3-to-2”

Dalam buku Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan, ke depan milenial “membunuh” jam kerja “9-to-5”. Rupanya Covid-19 membunuhnya lebih cepat. Dengan work from home (WFH), karyawan bereksperimen menjalankan pola kerja flexible working hour (FWH). Maka jam kerja “9-to-5” nantinya akan berubah menjadi “3-to-2” yaitu jam kerja 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah dalam seminggu. 

#23. The Birth of Zoom Generation

Kalau generasi milenial sering disebut “Instagram Generation” dan Gen-Z adalah “Snapchat Generation”. Maka setelahnya, kita akan menyongsong lahirnya “Zoom Generation”. Kalau generasi milenial dan Gen-Z tumbuh di tengah keajaiban teknologi digital (internet, media sosial, tech startup), Generasi Zoom tumbuh di tengah dunia yang rapuh oleh ancaman pandemi dan risiko hidup yang tinggi. Maka Zoom menjadi “the new Google”.

#24. Cloud Lifestyle

Kebiasaan baru work from home, tuntutan collaborative working, dan maraknya gig economy akan mendorong melonjaknya penggunaan platform sharing yang tersedia via cloudMaka konsumsi layanan cloud baik SaaS (software as a services), IaaS (infrastructure as a services), PaaS (platform as a services) akan masuk babak baru pertumbuhan eksponensial. Tren ini akan memunculkan cloud lifestyle dimana karyawan bisa bekerja dengan aplikasi dan data yang tersimpan di cloud dan bisa diakses di manapun dan kapanpun. 

#25. Telemedicine: from Visit to Virtual

Blessing in disguise, krisis pandemi akan menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan yaitu telemedicine dan virtual health. Seperti halnya remote working dan online learning, konsumen dipaksa untuk mengadopsi gaya baru berobat yaitu secara virtual. 

#26. Online+Home-Schooling

COVID-19 memicu dua tren sekaligus dalam proses pembelajaran. Pertama pembelajaran secara online (“online-schooling”) dengan menggunakan platform digital. Kedua peran orang  tua yang semakin besar dalam proses pembelajaran anak (”home-schooling”). Saya menyebut dua tren ini: “online+home-schooling”. Online+home-schooling mengubah secara mendasar wajah dunia pendidikan ke depan.

#27. Ibadah Virtual

COVID-19 turut mengubah perilaku masyarakat dalam beribadah. Sholat berjamaah sementara tidak bisa dilakukan, begitu pula kebaktian atau ibadah di gereja. Solusinya adalah melakukan ibadah secara virtual. Untuk umat Nasrani bisa melakukan ibadah secara virtual dengan live streaming. Bagi umat muslim sholat jamaah di masjid diganti dengan sholat di rumah. Namun, dakwah atau pengajian masih bisa dilakukan secara virtual.

#28. The Rise of Empathy and Solidarity

Krisis COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar. Hikmahnya, COVID-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. COVID-19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera. 

#29. From Drone Parenting to Positive Parenting

COVID-19 bahkan mengubah pela pengasuhan anak (parenting style). Ketika work from home memungkinkan orang tua banyak berkumpul dengan anak, maka pola pengasuhan yang efektif adalah “positive parenting dimana orang tua secara proaktif menjelaskan perilaku yang baik dan dan mengajak anak untuk sama-sama memahami situasi sulit ini. Ini berbeda dengan “drone parenting ala milenial yang membebaskan anak untuk mengeksplorasi banyak hal sementara orang tua memantau dari jauh.

#30. More Suffering, More Religious

Di tengah krisis COVID-19, agama menjadi tempat bersandar mencari ketenangan sekaligus harapan. Sebagian besar masyarakat menganggap krisis ini adalah bencana atau hukuman yang diberikan Tuhan, bahkan dianggap tanda-tanda hari akhir akan tiba. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, cobaan COVID-19 semakin mendekatkan mereka kepada Tuhan. Karena di tengah wabah ajal bisa setiap saat datang maka mereka memperbanyak amal-ibadah untuk bekal ke akherat. 

 

Sumber : yuswohady.com

Esensi MVP dalam Pengembangan Produk

MVP N

Ada banyak penafsiran saat membicarakan tentang definisi Minimum Viable Product (MVP). Salah satunya, MVP adalah sebuah produk yang memiliki set fitur paling minimalis, tujuannya untuk membuktikan hipotesis paling esensial dalam bisnis yang dikembangkan. Bentuknya pun beragam, meskipun jika dalam startup digital akan lebih memberikan experiences saat bentuknya aplikasi, namun tidak menutup kemungkinan dengan hal yang lebih sederhana.

Contoh yang paling sering dipaparkan ialah MVP dari pengembangan Dropbox, kala itu hanya berbentuk sebuah video. Video singkat yang memaparkan inti dari cara kerja layanan yang akan mereka kembangkan dan keuntungannya untuk pengguna. Ribuan, bahkan ratusan ribu calon pengguna mendaftar hanya dengan menonton video itu.

Jadi inti dari MVP bukan pada alpha/beta product dari aplikasi, namun lebih kepada cara  memberikan kesempatan konsumen untuk memvalidasi secara langsung versi awal produk yang dikembangkan. Karena ketika ide telah direalisasikan dalam sesuatu yang lebih riil dan terpublikasi, orang akan lebih mudah membayangkannya dan menentukan apakah produk tersebut yang ia butuhkan atau tidak.

Bahkan MVP bisa berbentuk sesimpel satu single-web page dengan penjelasan menarik, lalu dibubuhi sebuah kolom isian email jika ada pengunjung yang tertarik.

Menjadi tahapan paling penting, menentukan lanjut atau memikirkan ide lain

Dalam berbagai pembahasan tentang “Lean Startup”, MVP selalu ditempatkan pada teknik yang paling penting untuk dilakukan. Menurut Eric Ries, salah satu yang mempopulerkan konsep MVP, bahwa dengan adanya produk inisiasi seseorang dapat mengumpulkan sebanyak mungkin pembelajaran atau umpan balik dari konsumen.

Meluncurkan aplikasi MVP juga dikatakan sebagai sebuah bentuk seni. Karena di sini memerlukan presisi yang tepat antara apa yang ingin disuguhkan dan apa yang benar-benar konsumen butuhkan. Untuk itu sebelum meluncurkan MVP, perlu diketahui komponen apa saja yang perlu diperhatikan, sebagai karakteristik MVP.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi kunci dalam pengembangan MVP: (1) menitikberatkan pada kegunaan produk secara esensial, sehingga ketika produk benar-benar diluncurkan maka konsumen bersedia menggunakan; (2) memberikan gambaran umum kepada konsumen tentang fungsionalitas lengkap yang akan dihadirkan mendatang; dan (3) menyediakan kanal umpan balik untuk membantu pengembangan secara berkelanjutan.

Mengantarkan pada penilaian yang terukur dan realistis, bukan pada asumsi

Setelah MVP sampai kepada konsumen ada banyak hal yang dilakukan. Yang paling sederhana adalah berbicara dengan konsumen, untuk mengetahui apa yang mereka rasakan. Menariknya saat ini sudah ada banyak sekali tools pengukuran yang bisa diintegrasikan, contohnya Google Analytics. Dari situ akan ditemukan apa yang disebut Problem-Solution Fit.

Problem-Solution Fit ini sederhananya adalah ketika banyak pengguna merasa apa yang dilahirkan melalui layanan tersebut menjawab kebutuhannya. Namun ketika sudah mencapai ini pun bukan berarti cukup. Karena pada akhirnya semua akan dipertaruhkan untuk tujuan bisnis. Maka selanjutnya perlu memikirkan Product-Market Fit, yakni tentang bagaimana meraih revenue dari proses bisnis yang telah dikembangkan.

Dari sini apa yang didapat adalah pengukuran. Tentang apa yang paling diminati dari inisiasi produk, apa yang paling ditunggu, masukan apa yang diberikan dan sebagainya. Semua harus terdokumentasikan secara jelas sebagai bekal untuk mematangkan produk. Bahkan untuk menentukan penghentian pengembangan jika solusi yang ditawarkan ternyata tidak tepat guna.

Hal lain yang perlu diperhatikan, MVP juga harus disodorkan kepada pangsa pasar yang tepat. Dipasarkan kepada orang-orang yang ditargetkan sebagai pengguna. Sehingga marketing effort tetap berperan kunci dalam tahap ini.

Membutuhkan pengujian ketat dan fokus dalam pengembangannya

Selain melakukan pemantauan umpan balik dari pengguna secara aktif, pengujian juga diperlukan. Terdapat banyak metodologi yang bisa digunakan untuk pengujian produk di masa MVP (ini lebih cocok dilakukan ketika MVP berupa aplikasi atau produk yang bisa dicoba). Salah satu metodologi yang dapat digunakan adalah A/B Split Testing.

Salah satu yang dilakukan oleh metodologi pengujian tersebut adalah dengan membandingkan apa yang dihasilkan aplikasi ketika diuji dengan mengubah-ubah variabel yang ada pada aplikasi. Misalnya pada penempatan tombol atau fungsionalitas menu, lakukan perubahan dengan beberapa desain pada periode waktu tertentu. Lalu lakukan analisis, dari tindakan yang paling cepat dan umum dilakukan oleh penguji. Bahkan oleh calon konsumen sekalipun.

Kendati demikian fokus terhadap tujuan utama juga perlu menjadi perhatian. Sering kali dalam proses pengembangan produk, terlebih saat telah meluncurkan MVP, akan ada ide-ide baru yang bermunculan. Bisa saja dengan mudah seseorang langsung mencomot ide tersebut dan mengimplementasikannya ke dalam produk. Padahal belum tentu reliable dan bisa jadi menambah kompleksitas produk.

Padahal kesederhanaan proses sangat diutamakan dalam MVP untuk memusatkan perhatian pada esensi produk. Dampak dari ideas-overflow jika tidak terkelola dengan baik adalah gagalnya proses MVP dalam kaitannya dengan validasi konsumen dan pangsa pasar.

Ada cara untuk tetap memfokuskan pada tujuan dari pengembangan produk inisial

Pertama yang perlu dilakukan setelah memiliki ide spesifik tentang sebuah produk, kunci target pengembangannya. Turunkan ruang lingkup MVP (kaitannya dengan fungsionalitas dan fitur) lalu segera lakukan proses pra-produksi. Di sini proses perancangan dimulai, tapi bukan berarti tanpa adanya batu sandungan. Biasanya justru datang dari lingkup internal, yakni pengembangan ide yang tiada henti. Ingin menambahkan ini, menambahkan itu dan sebagainya. Yang diperlukan di sini adalah jangan mudah terlena. Fokus pada tujuan awal.

Dalam proses pengembangan lakukan secepat mungkin. MVP tidak membutuhkan fitur yang sangat lengkap, namun yang pasti harus mencakup tujuan utama dari ide. Jadi lakukan pengembangan seramping mungkin. Karena perlu untuk sesegera mungkin menghadirkan produk tersebut kepada konsumen. Karena pengembangan lanjutan atau penambahan fitur yang paling pas adalah ketika masukan tersebut berasal dari konsumen secara umum.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa MVP itu pada dasarnya validasi tahap awal dalam pangsa pasar sebenarnya. Jika tervalidasi baik, pengembangan selanjutnya dapat bertumpu pada masukan yang diberikan, karena berasal langsung dari calon pengguna produk ke depan.

Sumber : Dailysosial

Tren E Commerce 2020

tren e-commerceE-commerce mendapatkan angin segar sejak berkembangnya perangkat mobile smartphone di Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur dan suprastruktur yang baik, ke depannya potensi di e-commerce akan semakin besar. Untuk itu, setiap pelaku  usaha perlu merumuskan strategi untuk menangkap dan memanfaatkan tren e-commerce ke depannya.

Perkembangan dunia e-commerce memang sangat cepat, sejalan seiring dengan perkembangan teknologi. Perkembangan ini ikut mendorong minat para pelaku usaha memanfaatkan internet sebagai jalur penjualannya. Tahun lalu saja, total transaksi e-commerce mencapai 77 trilyun rupiah (CNBC Indonesia). Nilai itu meningkat 150% dari tahun sebelumnya.

Tahun ini, nilai transaksi diperkirakan meningkat, karena per bulan saja sudah mencapai Rp 13 T (BeriTagar). Hingga akhir tahun, nilai transaksi  diperkirakan meningkat 100% dari tahun lalu.

Terus, seperti apa tren e-commerce 2020, dan bagaimana perusahaan menyiapkan diri untuk menyambutnya? Berikut ini 7 tren e-commerce 2020.

1. Perangkat Mobile masih Menjadi Andalan

Melanjutkan tren e-commerce tahun ini, perangkat mobile masih menjadi andalan dalam melakukan transaksi online. Tak heran sebenarnya, karena secara kemudahan dalam mobilitas dan mekanisme membuat perangkat ini makin diminati menjadi sarana transaksi.

Menurut Google, masyarakat Indonesia yang mengakses internet 95% menggunakan perangkat mobile. Hanya 5 % yang menggunakan perangkat PC saja. Dari pengguna perangkat mobile tersebut, sebanyak 68% telah menggunakannya untuk melakukan transaksi via internet.

Pebisnis dapat menyikapi hal ini dengan meningkatkan responsivitas website ketika diakses via  mobile phone. Begitu juga dengan meluncurkan aplikasi-aplikasi smartphone untuk program Customer Relationship Management (CRM). Tingkat interaksi yang semakin tinggi dengan pelanggan via mobile phone dapat meningkatkan transaksi dan laba perusahaan.

tren e-commerce

2. COD Semakin Ramai

Fenomena COD (Cash on Delivery) atau pembayaran saat pesanan sampai akan menjadi andalan di masa mendatang. Ini berkaitan dengan masih belum berkembangnya rasa aman pada masyarakat tentang transaksi online. Meskipun sudah ada banyak marketplace yang menyediakan mekanisme rekening bersama, namun masih banyak yang belum merasa secure.

Kebiasaan lama mungkin memang sulit diubah. Dan bagusnya, perusahaan ekspedisi menyikapi ini dengan memfasilitasi layanan COD ini. Fenomena cashless dan bayar di tempat tentu semakin diminati para pelanggan.

Pebisnis dapat menyikapi hal ini dengan menyediakan layanan COD, bekerjasama dengan pihak ekspedisi. Dengan demikian, perusahaan dapat memberikan jaminan bahwa barang akan sampai ke tempat pelanggan dan uang pelanggan aman.

3. Industri Ekspedisi Semakin Berkembang

Ekspedisi merupakan salah satu backbone dalam e-commerce. Oleh karena itu, jasa ekspedisi banyak memberikan pengaruh terhadap tren e-commerce 2020. Yang paling dapat dibaca, adalah meningkatnya jumlah perusahaan yang menyediakan jasa pengantaran barang ini.

Selain itu, ekspedisi ke luar pulau, hingga ke pelosok Indonesia akan semakin mudah dan murah. Kebijakan infrastruktur dari pemerintah nampak akan mulai terasa pengaruhnya. Dan, bagi industri e-commerce, ini berarti berita gembira.

tren e-commerce

4. Marketplace Menemui Tantangan

Era marketplace tampaknya akan mengalami stagnan setelah beberapa tahun ini berkembang cukup cepat. Strategi bakar uang yang digunakan di awal-awal akan mulai dikurangi dan marketplace mulai menuju ke arah monetisasi. Perkembangan marketplace semakin kelihatan lebih mendatar dan normal.

Ini menjadi  tantangan bagi marketplace untuk menyediakan promo yang kreatif dan layanan yang baik. Karena selama ini marketplace selalu identik dengan perang harga, membuat penjual mulai melirik channel lain untuk penjualan. Adanya game dan kuis dalam marketplace menjadi  salah satu upaya yang sangat baik untuk menjaga loyalitas pelanggan.

Pebisnis dapat menyikapi ini dengan membuat toko online sendiri dan melakukan  optimasi. Dengan branding dan optimasi yang baik, pelanggan akan dengan mudah berpindah ke toko online tersebut. Apalagi sekarang program COD sudah dapat difasilitasi  via jasa ekspedisi. Ini  tentu memberikan rasa aman yang lebih besar daripada rekening besama di marketplace.

tren e-commerce

5. Media Sosial Kembali Berkibar

Setelah agak lama menggeliat akibat banyaknya penipu yang menjual via media sosial, kini media sosial akan semakin berkibar. Fasilitas  COD via ekspedisi banyak memberikan pengaruh dalam hal tren e-commerce. Apalagi secara frekuensi, orang lebih banyak membuka media sosial daripada aplikasi lainnya.

Media sosial juga semakin berkibar akibat banyak media sosial mulai mengembangkan aplikasinya untuk mendukung transaksi e-commerce. Beberapa fitur marketplace atau social media for business semakin berkembang dan diminiati. Masyarakat akhirnya cenderung ingin langsung bertransaksi via media sosial daripada harus membuka aplikasi lain.

Pebisnis dapat menyikapi hal ini dengan mengoptimalkan media sosialnya. Social media manager benar-benar akan sangat dibutuhkan ke depannya. Jadi pebisnis harus semakin kreatif dengan social media yang dimilikinya.

6. Fintech dan Alat Pembayaran Digital Makin Diandalkan

Start Up pembayaran digital semakin diminati oleh masyarakat. Terutama karena kemudahan dan bonus-bonus yang ditawarkan. Ditambah lagi, adanya  fasilitas gratis transfer ke bank-bank berbeda, meski terbatas, juga ikut mendorong pertumbuhannya.

Ke depannya akan semakin banyak transaksi  yang dilakukan masyarakat via  dompet digital ini. Apalagi, semakin banyak jenis layanan ini yang hadir dengan keunggulan-keunggulan yang berbeda.

Perusahaan dapat menyikapi hal ini dengan menggunakan layanan dompet digital  ini untuk menerima pembayaran. Dengan demikian, transaksi akan semakin ringkas dan mudah sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan.

 

Sumber : jojonomic

Upaya Korporasi Besar Berinovasi dan Tip Agar Startup Bisa Berkolaborasi

Astra Digital

Jika dibandingkan dengan startup, korporasi besar kerap diidentikan sebagai entitas yang sulit menghadirkan inovasi yang cepat. Beberapa hal ini sering kali menjadi alasan dibalik macetnya inovasi-inovasi baru yang lahir dari rahim korporasi.

  • Soal akses birokrasi perusahaan yang rumit,
  • skala produksi yang besar, hingga
  • kendala ketersediaan waktu.

Namun begitu, saat ini sudah banyak korporasi yang mulai berbenah. Beberapa muncul inisiatif baru, baik dari internal maupun yang melibatkan pihak eksternal. Beberapa perusahaan bahkan mulai terbuka dan mengajak startup berkolaborasi demi memenuhi kebutuhan pasar.

Mendorong inovasi internal lewat program akselerator

Inovasi bisa datang dari mana saja. Termasuk dari internal perusahaan. Hal inilah yang diupayakan Coca Cola Amatil Indonesia melalui inisiatif Amatil X pada tahun 2018. Program ini merupakan wadah akselerator khusus bagi karyawan mereka yang memiliki ide inovasi bisnis.

Shark-Tank-Amatil-X-2

Amatil X membantu memfasilitasi karyawan mereka untuk megembangkan ide inovasi. Saat ini Coca Cola Amatil fokus mencari solusi dan inovasi di bidang logistik dan optimalisasi distribusi, analisis ketersediaan produk, dan pengemasan berkelanjutan.

Bisnis besar kata Alix Rimington selaku Head of Disruptive Innovation & New Ventures Coca-Cola Amatil, cenderung hanya fokus pada pembaruan skala besar. Di sisi lain, pola pikir ala startup memiliki ide kemudian menguji dan mempelajarinya.

“Setelah mempelajari akan diubah lagi jika diperlukan, untuk kemudian kembali diuji dan dipelajari lagi secara terus-menerus,” katanya.

Rimington berharap, inisiasi Amatil X bisa mendorong karyawan lebih kreatif dan berani dalam melahirkan ide pembaruan. Demi menyukseskan ini, Coca-Cola Amatil Indonesia mengundang pakar dari beberapa perusahaan teknologi seperti Gojek dan Tokopedia untuk menjadi mentor.

Selain mempelajari kemampuan teknis untuk kebutuhan riset dan pengembangan, mentor tersebut juga diharap bisa menularkan kultur startup yang identik dengan perubahan dan pengembangan yang cepat.

Yang kami pelajari dari Amatil X di Australia dan Selandia Baru adalah begitu banyak nilai baru yang muncul ketika orang-orang terpapar dengan (ekosistem) startup dan bekerja bersama.

 Alix Rimington, Head of Disruptive Innovation & New Ventures Coca-Cola Amatil Indonesia

Telkom Indonesia juga menerapkan hal yang sama lewat Amoeba Digital. Program yang dimulai awal 2018 ini menjadi wadah bagi karyawan Telkom yang memiliki ide inovasi digital. Mereka yang terpilih akan dimutasikan ke innovator group, agar bisa fokus mengembangkan dan melakukan validasi ide yang mereka gagas.

Gandeng startup lewat corporate venture capital

Lahirnya banyak startup baru yang menawarkan beragam solusi rupanya juga disambut positif beberapa korporasi besar.

Wesley Harjono, Managing Director Plug and Play Indonesia berpendapat, pola pikir perusahaan besar mulai bergeser. Kini, mereka lebih terbuka untuk mengadopsi inovasi yang dihadirkan oleh startup dibanding memaksakan diri melahirkan inovasi dari tim internal.

“Dibanding memulai semuanya secara internal dari nol, mengadopsi solusi yang sudah dikembangkan startup akan menghemat banyak waktu dan resource (tenaga kerja)”

Hal tersebut diamini oleh Suwandi selaku Head of Business dari Astra Digital Internasional. Sebagai sebuah korporasi raksasa dengan cakupan lini bisnis yang luas, pergerakan mereka dalam mencoba hal baru tidak bisa seleluasa startup.

Hal itu dikarenakan mereka memiliki standar produksi dan operasional yang harus dipenuhi setiap harinya, sehingga tidak ada alokasi waktu dan tenaga yang memadai untuk berinovasi.

Itulah sebabnya Astra mendirikan corporate venture capital (CVC) bernama Astra Digital Internasional. CVC tersebut bertujuan mencari dan memberi pendanaan kepada startup yang bisa bersinergi dengan lini bisnis Astra. Mulai dari sektor otomotif, logistik, layanan finansial, hingga agrikultur.

“Dari sudut pandang korporasi, setiap kita akan berinvestasi, pertanyaan yang ada di kepala kami adalah apakah startup ini nantinya bisa menjadi bagian dari ekosistem Astra,” jelas Suwandi.

Salah satu langkah Astra masuk ke ekosistem startup ketika 2018 lalu menyuntikkan dana sebesar Rp2 triliun ke Gojek Indonesia. Saat itu PT Astra International bersama dengan PT Global Digital Niaga yang menaungi Blibli memimpin pendanaan.

Selain pendanaan, Astra Digital Internasional juga memberikan akses ke startup untuk menguji inovasi mereka dalam ekosistem maupun jaringan pelanggan Astra. Suwandi menilai, kesempatan itu bisa menjadi sarana untuk mematangkan inovasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

edmund carulli | korporasi Salim Group

Langkah serupa juga diambil oleh Salim Group. Sebagai pemain besar di sektor makanan dan retail. CVC yang mereka gagas aktif mencari startup yang bisa menghadirkan inovasi di ekosistem Salim Group dan membawa bisnis mereka berkembang lebih jauh.

Meskipun sudah berhasil menjadi pemimpin pasar di berbagai sektor, Salim Group menyadari peran penting inovasi demi menjaga keberlangsungan bisnis. Selain untuk efisiensi kegiatan operasional, inovasi juga penting agar produk yang dipasarkan tetap relevan dengan pola konsumsi pasar yang terus berubah.

Hal itu yang menjadi acuan utama Salim Group dalam menggandeng startup. Edmund Carulli sebagai Investment Portfolio Manager Salim Group menyatakan, mereka mencari startup yang memiliki inovasi yang matang dan terbukti dibutuhkan pasar, bukan hanya yang tumbuh pesat akibat strategi bakar duit.

Kami lebih tertarik dengan startup dengan sustainable growth, karena inovasi mereka sudah tervalidasi.

 Edmund Carulli, Investment Portfolio Manager Salim Group

Salim Grup juga mendikiran Block71 yang mereka sebut sebagai sebuah innovation factory. Block71 memiliki berbagai peran. Mulai dari pembangun komunitas, akselerator bagi startup, hingga penyedia ruang komunal sebagai wadah bagi para inovator bekerja dan berkolaborasi.

read also

Tip agar startup bisa kolaborasi dengan korporasi besar

Sebagai pihak yang kerap membantu perusahaan merambah inovasi di dunia digital, PT Cyberindo Aditama (CBN Group) membagikan perspektif mereka tentang cara bekerja sama dengan korporasi besar, khususnya di Indonesia

Do not overshoot. Tawarkan inovasi secara bertahap, dengan data serta kalkulasi yang jelas. Jangan tawarkan hal-hal yang tidak mereka butuhkan” kata Dani Sumarsono selaku Presiden CBN Group.

deni sumarsono | korporasi CBN

Dani menegaskan, perubahan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan, apalagi jika kasusnya adalah korporasi besar yang telah memiliki kultur dan sistem operasional yang kuat dan kompleks.

Jika dilakukan secara besar-besaran dalam waktu yang bersamaan, bukannya membentuk iklim inovasi malah berpotensi menimbulkan penolakan.

Dani juga melihat, inovasi butuh dukungan kolektif dari seluruh elemen perusahaan, mulai dari jajaran direksi hingga karyawan yang ada di lapangan. Apabila direksi sudah menginstruksikan suatu inovasi namun karyawan belum bersedia mempercayai pembaruan tersebut, Dani mencemaskan kemungkinan besar instruksi tersebut gagal saat dieksekusi.

“Karena memang tidak mudah mengubah cara bekerja seseorang, untuk mengubah kebiasaan. Kuncinya adalah waktu, konsistensi, dan leadership.”

Sementara CEO Kata.ai, Irzan Raditya, merangkum pelajaran penting yang ia dapat dari pengalamannya bekerja sama dengan berbagai korporasi besar menjadi 2R, yaitu:

  • Return of Investment. Sejak awal startup harus menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana perusahaan bisa merasakan manfaat dari inovasi yang ditawarkan.
  • RelationshipIrzan menilai inilah yang cukup menantang karena membangun relationship yang baik membutuhkan waktu, sementara kebanyakan pelaku startup saat ini cenderung ingin melakukan bisnis secara ringkas dan efisien.

Dari dua hal itu, Irzan menyimpulkan tidak bisa ada perubahan radikal yang mendadak di perusahaan berskala besar. Inovasi dan teknologi baru sebaiknya diimplementasikan secara gradual, sambil terus menganalisa masalah apa yang perlu dijadikan prioritas berikutnya.

 

Sumber : techinasia

Empat Kehebatan OKR dalam Penggunaannya di Perusahaan

OKR2

Apakah alasan kehebatan OKR  sehingga membawa Google mengalami pertumbuhan bisnis puluhan kali lipat? Larry Page, cofounder Google, pernah mengatakan bahwa “Good ideas with great execution are how you make magic. And that’s where OKR come in”. Ide-ide yang bagus dengan pelaksanaan yang luar biasa adalah bagaimana Google membuat keajaiban terjadi, dan disanalah OKR membantu.

OKR adalah metode sistematis yang digunakan untuk menentukan tujuan (goal-setting) dan cara mengukur pencapaian tujuan tersebut. OKR akan membantu memfokuskan prioritas kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut, dan bagaimana ritual kegiatan yang dilakukan untuk memonitor eksekusi rencana tindakan tersebut.

Mengapa sih OKR demikian hebat? Yang membuatnya sangat populer di banyak perusahaan startup teknologi, bahkan beberapa perusahaan yang mapan pun mulai menerapkannya juga. John Doerr, sebagai salah satu investor awal Google, yang menginginkan Google menerapkan sistem manajemen OKR yang pernah dipelajarinya ketika John Doerr masih bekerja di Intel. Dalam bukunya “Measure What Matters”, John Doerr menyarikan kehebatan OKR dalam istilah superpower. Ada empat alasan kehebatan OKR dalam pelaksanaannya di perusahaan. keempat hal itu yakni :

Superpower No. 1 Focus and Commit to Priorities

OKR membantu perusahaan untuk fokus pada hal yang super penting, sehingga kita bisa mengerjakan hal-hal yang menjadi prioritas saja. Karena itu ketika membuat OKR entah untuk perusahaan, departemen atau untuk individual hanya boleh mempunyai 1 hingga 4 OKR saja. Kalau terlalu banyak namanya bukan fokus lagi ya kan. Dan, setiap objectives disarankan hanya mempunyai 2 hingga 5 key results untuk tolak ukurnya. Tentu saja, setiap key results nantinya memiliki beberapa inisiatif atau langkah-langkah pelaksanaan yang jelas.

Marshall Goldsmith,  yang dikenal sebagai Leadership Thinker and Executive Coach No.1 di dunia, pernah bertanya bahwa “Bila hanya satu hal saja yang bisa Anda lakukan hari ini, apakah itu?” Dengan kata lain beliau sedang mengajarkan kita untuk fokus pada hal terpenting yang akan kita lakukan hari demi hari. Apabila hal no.1 itu telah selesai dilakukan, baru kita bisa berpindah ke hal no.2 dan demikian seterusnya.

Coba kita refleksikan pada diri kita masing-masing, apa sebenarnya prioritas kita dalam tiga bulan ke depan, enam bulan ke depan, atau bahkan setahun ke depan? Apakah sudah cukup jelas? Pertanyaan yang sama bisa ditanyakan pada anggota tim kita. Kalau mereka ditanya “Apakah hal no. 1 yang akan Anda lakukan dalam minggu ini yang akan memberikan dampak terbesar untuk perusahaan?” Mungkin hanya 20% saja yang tahu, dan sisanya yang 80% hanya mengerjakan rutinitas pekerjaan tanpa menyadari esensi terpenting yang memberikan dampak terbesar pada unitnya.

Bila ini realitanya, lalu bagaimana mereka bisa menyelaraskan pekerjaannya dengan tim dan unit yang lain? Konsep OKR esensinya ingin membuat semua orang tahu sebenarnya apa yang menjadi fokus perusahaan atau unitnya dalam tiga bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan, sehingga semua insan bisa menyelaraskan pekerjaannya dengan prioritas tersebut. OKR mendorong para Leader untuk memilih dan memutuskan apa yang menjadi prioritasnya.

OKR berfungsi pula sebagai alat komunikasi yang terstruktur dari atas hingga ke level individual. Ingat dalam Conversational Intelligence,  kualitas komunikasi kita sehari-hari menjadi dasar yang sangat penting untuk membangun budaya kerja yang sehat. Yang pada akhirnya ada keselarasan, semua menjadi semakin jelas, transparan dan bisa memberikan fokus yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan yang diinginkan.

Superpower No. 2 Align and Connect for Teamworks

Adanya transparansi dan keselarasan prioritas kerja ini, membuat tim yang di bawahnya hingga level individual bisa melihat prioritas atasannya hingga ke top level tertinggi. Terjadilah alignment dan sekaligus connection disini, yang sangat bagus untuk meningkatkan kualitas relasi antar anggota yang ada. Engagement pun akhirnya meningkat, dan terbentuklah budaya organisasi yang lebih baik.  Premis ini ternyata sejalan dengan konsep Conversational Intelligence. Tahun 2012 Google pernah mengadakan riset mendalam dan menghabiskan dana jutaan dolar untuk mengetahui rahasia membentuk tim yang ideal. Kesimpulannya ciptakan lingkungan yang aman secara psikologis, dimana setiap insan bebas dan tanpa rasa takut untuk mengekspresikan pendapat dan pemikirannya. Dengan kata lain, Conversational Intelligence-nya semakin tinggi.

OKR yang benar mestinya seperti hal di atas. Dengan transparansi OKR, kepercayaan terbentuk dan goal setiap orang mulai dari pucuk pimpinan ke bawah terbuka. Masing-masing orang bisa menghubungkan Objective mereka dengan Objective perusahaan, adanya saling ketergantungan dan 3C dalam tim. 3C adalah Communication, Coordination dan Collaboration. 3C ini pula yang menjadi tagline yang sedang dikampanyekan terus menerus di perusahaan saya belakangan ini.

Superpower No. 3 Track for Accountability

OKR mendorong pemantauan dan siapa yang bertanggung-jawab secara jelas. Key Results dalam OKR berisi data numerik atau kuantitatif yang mengukur pencapaian goal yang diinginkan dalam OKR. Proses tracking ini mengetahui apakah kinerja saat ini masih jauh dari target, cukup atau sudah baik sekali. Dalam OKR tercatat dengan jelas pula untuk inisiatif rencana tindakan tertentu siapa yang menjadi penanggung-jawabnya. Jadi disini tidak ada saling tuduh, karena semuanya terbuka dan transparan. Setiap insan memiliki tanggung-jawab atas apa yang harus dicapainya.

OKR speak by data. Akuntabilitas dapat dilakukan dengan proses monitoring yang rutin dengan evaluasi yang terus menerus. Semangatnya adalah continous improvement untuk mencapai goal yang diinginkan, bukan semangat untuk saling mencari kambing hitam apabila objectives tidak tercapai. Sekali lagi disini adalah soal membentuk budaya organisasi yang baik. Dan, inilah yang menjadi tugas utama seorang pemimpin. Membentuk budaya kerja yang sehat dan ada Trust disana. Hal itu bisa dimulai dari hal paling sederhana yakni membangun ritual percakapan sehari-hari yang sehat. Ritual ini yang akan meningkatkan Conversational Intelligence yang sebenarnya telah ada di dalam diri setiap manusia.

Superpower No. 4 Stretch for Amazing

Ketika menyusun OKR, goal yang dibuat mestinya inspirasional, yang bisa bikin Wow. Istilah Google adalah moonshots, atau menembak rembulan. Maknanya adalah menetapkan sasaran luar biasa tinggi, yang kelihatannya sepintas tidak mungkin bisa dicapai. Hal ini yang membuat tim mempunyai can do attitude dengan semangat tinggi untuk mengejarnya.

Dua dekade yang lalu, Google mempunyai misi menjadi “organizing the world’s information”, mengorganisasikan informasi yang beredar di dunia. Mungkin pada waktu itu ada orang yang mengatakan “Gila kali ya, goal itu!” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi apa yang kita lihat saat ini! Istilah google sudah menjadi kata kerja dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita butuh mencari informasi, seringkali kita bilang “Di-google aja…”, “Tanya ke mbah google….”.

OKR memberikan target besar yang ambisius. Seperti contoh Google selalu mencoba mencapai 10x, apa yang bisa dicapai dengan 10 kali lipat dari apa yang umumnya bisa dilakukan. Pencapaian 0,7 dari 1,0 dalam scoring Key Results sudah dianggap Google sangat bagus itu. Pencapaian 0,3 pun sudah dianggap cukup baik. Malahan kalau mencapai skor sempurna 1,0 alias 100% dianggap salah OKR yang disusun. Karena dianggap mudah dicapai, terlalu gampang. Jadi pencapaian 6-70% sudah dianggap sukses.

Anda bisa merasakan dari penjelasan saya di atas, bahwa sistem OKR ini memotivasi setiap insan untuk menjadi unggul, atau bahasanya Tom Peters itu In Search of Excellence. Menjadi pribadi yang ekselen. Bahwa ekselen menjadi nilai hidup, yakni cara kita hidup baik sebagai profesional maupun dalam kehidupan pribadi. Ekselen adalah tindakan yang menunjukkan kita peduli, baik dengan karyawan kita sendiri, suplier maupun customer kita, hingga komunitas dimana kita hidup dan berkembang.

Jadi keempat superpower itulah yang menjadi alasan mengapa OKR itu dahsyat! Supaya mudah diingat saya akronimkan menjadi FATS ya. Focus, Align, Track, dan Strecth. Bagaimana OKR bisa membimbing semua insan dalam sebuah organisasi memfokuskan pada hal-hal kunci, menyelaraskan semua departemennya, melacak siapa yang berhasil dan siapa yang masih belum berhasil, serta menjadi ambisius dan ekselen dalam kehidupannya.

Saya tutup tulisan diatas dengan quote dari John Doerr bahwa “Tantangan terbesar Anda adalah membangun Tim yang hebat!”

Sumber : swa.co.id