Strategi Jangka Panjang LinkAja Menghadapi Persaingan Dompet Digital di Indonesia

 

Peta kondisi persaingan dompet elektronik di Indonesia hingga kini masih menjadi topik hangat yang menarik untuk dibicarakan. Berdasarkan riset konsumen aplikasi pembayaran digital yang dirilis oleh Snapcart bulan Juli 2019 lalu, terdapat empat layanan dompet digital yang saling berebut pasar saat ini, yakni OVOGopayDana, dan LinkAja.

Dari sekian dompet digital tersebut, LinkAja bisa dibilang merupakan layanan yang tidak secara spesifik menggempur segmen konsumsi kelas menengah atas. Apalagi dengan aneka ragam promosi dan maupun klaim terbuka sebagai pengguna dengan pasar terbanyak di Indonesia.

Pantauan Tech in AsiaLinkAja lebih sering bergerak di kawasan perkotaan daerah seperti Banyuwangi, Malang, dan Yogyakarta untuk mengejar fungsi pembayaran sektor yang erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Strategi persebaran adopsi luar kawasan sentral ibukota ini memperlihatkan adanya upaya strategis lain yang tengah dikejar LinkAja.

Berbicara kepada Tech in Asia, Danu Wicaksana selaku CEO LinkAja mengutarakan seperti apa “end game” jangka panjang dari layanan dompet digital mereka. Dan bagaimana pandangannya terhadap persaingan layanan fintech pembayaran dalam kurun waktu setahun terakhir. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh CEO Link aja tersebut :

Hindari persaingan dengan menarget pasar yang berbeda

Sebagai dompet elektronik hasil merger berbagai layanan pembayaran digital BUMN dengan fondasi di atas infrastruktur Tcash (sebelumnya dompet elektronik milik Telkomsel), LinkAja saat ini tengah berupaya menjadi alat pembayaran universal yang sektor agnostik.

Ini artinya, LinkAja dibuat agar tidak terpaku hanya satu atau beberapa ekosistem digital tertentu seperti yang dilakukan ketiga pemain besar lainnya di Indonesia.

Sikap LinkAja sebagai pemain yang berupaya “netral” ke semua ekosistem ini sebelumnya bisa terlihat dari kerja sama strategis antara mereka dengan Gojek untuk rencana ketersediaan opsi pembayaran non tunai LinkAja di layanan transportasi online mereka.

Tidak hanya itu saja, opsi pembayaran menggunakan LinkAja juga bisa ditemukan di e-commerce besar seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Pendekatan universal ini diakui Danu sebagai salah satu value proposition yang dari awal pihaknya telah upayakan supaya dapat menjangkau adopsi pengguna yang lebih luas lagi.

Salah satu hal yang dari awal LinkAja upayakan adalah memahami kekuatan kita dan mencari use case apa yang bisa ditawarkan ke pasar. Kasarnya kita harus tahu target market pasar kita itu siapa.

 Danu Wicaksana, CEO LinkAja

Danu menggambarkan, ketika Tcash merger menjadi LinkAja, posisi pasar saat itu sudah sangat jauh berbeda dibandingkan saat Tcash pertama kali masuk ke pasaran.

“Hal ini mendorong kami untuk mengubah strategi cukup signifikan, karena pemain lain di Indonesia sudah memiliki funding yang cukup kuat di segmen target market yang kami sebut convinience di kawasan perkotaan.”

Kondisi tadi membuat pihak LinkAja tidak berminat untuk head-to-head menghadapi persaingan promo seperti cashback atau sejenisnya.

Hingga di bulan keempat perkembangannya, LinkAja lebih tertarik fokus melebarkan sayap kepada pengadopsian sektor lain seperti pembayaran transportasi umum, kereta, transaksi SPBU, jalan tol, dan beragam layanan lain yang didukung perusahaan BUMN lainnya.

Prioritaskan adopsi di kota tier kedua dan ketiga

Danu berpandangan, di masa mendatang fokus perkembangan dompet digital di Indonesia akan terbagi menjadi dua sektor.

  • Sektor pertama yakni kebutuhan convinience yang saat ini digarap oleh nama-nama besar seperti OVO, Gopay, dan Dana di kota besar.
  • Lalu sektor kedua adalah mass middle market, yaitu jenis dompet digital yang dipakai untuk kebutuhan fundamental sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan dompet digital di sektor pasar kedua tadi, Danu menjelaskan saat ini pihaknya tengah mengupayakan strategi growth yang matang dalam waktu singkat.

Pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Managing Director Berrybenka ini optimis bisa memenuhi tantangan scaling bagi LinkAja dengan berbekal aset dan akses yang dimiliki perusahaan pelat merah lainnya.

Akses ke sejumlah aset BUMN ini menjadi poin kelebihan LinkAja yang turut mendorong fokus pengembangannya di kota-kota tier dua dan tiga Indonesia.

Salah satu akses aset BUMN potensial adalah afiliasi LinkAja dengan Bank Himbara yang menaungi layanan Anjungan Tunai Mandiri ATM Link. Dengan kemiripan nama brand yang dimiliki keduanya, pengguna layanan LinkAja bahkan bisa menarik uang tunai ke mesin ATM Link yang tersebar di berbagai pelosok daerah.

read also

Bidik potensi inklusi keuangan yang lebih massal

Danu mengatakan, rata-rata adopsi penggunaan dompet digital di Indonesia sudah sangat terkonsentrasi di Jabodetabek. Salah satu layanan dompet digital yang namanya tidak disebutkan bahkan adopsi penggunaanya di kawasan Jabodetabek bisa mencapai angka 70 persen.

Temuan inilah yang mendorong pihak LinkAja untuk mencari ceruk adopsi pengguna dompet lain yang lebih luas dengan tidak terkonsentrasi penuh di kawasan perkotaan tier satu seperti Jakarta dan sekitarnya.

Meskipun baru mulai meluncur ke publik pada Juli 2019, pihak LinkAja sudah menargetkan jumlah pengguna sebesar 40 juta orang. Pada bulan Oktober 2019, jumlah pengguna terdaftar di LinkAja diklaim telah menyentuh angka 33 juta orang.

Menurut Danu, target angka demikian besar tadi di satu sisi juga terbantu lewat akses LinkAja di ponsel konvesional melalui layanan USSD bagi pengguna operator Telkomsel. Target adopsi jumlah pengguna awal LinkAja yang demikian besar tadi, menurut Danu selaras dengan misi inklusi keuangan digital yang juga cukup sering digaungkan oleh pemain dompet elektronik lainnya di Indonesia.

Meskipun garis besar inklusi keuangan dompet digital ini kurang lebih sama, namun Danu mengungkapkan bahwa gol akhir dari segmen pasar yang hendak dicapai LinkAja akan lebih masif, semua ini karena peluang konsumen layanan BUMN lain yang akan dipayungi oleh dompet elektronik tersebut.

Untuk persiapan di tahun 2020 mendatang, Danu menambahkan ke depannya ekosistem pengadopsi LinkAja juga akan semakin luas seiring dengan proses masuknya tujuh entitas shareholder baru dari kalangan BUMN seperti AngkasaPura, Taspen, dan lain-lain.

 

Sumber : Techinasia

Konsumsi Kelas Menengah Jadi Penggerak Utama Investasi Startup Asia

Investment-Landscape-in-Asia-TIA-Conference-Featured

Jumlah kelas menengah yang terus mengalami peningkatan menjadi penggerak utama investasi startup di Asia. Gejala tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Vietnam.

Data dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan, populasi dunia akan tumbuh hingga 8,2 miliar jiwa pada 2030 nanti, di mana Cina dan India akan menjadi rumah bagi sekitar 66 persen kelas menengah global.

Beberapa ahli memproyeksikan, negara-negara di Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan kelas menengah hingga lebih dari 500 persen hingga 2030, jauh melampaui pertumbuhan kelas menengah di Eropa dan Amerika yang masing-masing hanya 2 dan 5 persen.

Pada 2011, jumlah kelas menengah di Asia telah mencakup seluruh populasi penduduk di Eropa. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1,5 miliar kelas menengah di Asia yang menginginkan standar lebih tinggi pada kebutuhan hidupnya, seperti untuk makanan, pariwisata, pendidikan, kesehatan, barang mewah, hingga properti.

Perspektif dari tiga partner perusahaan modal ventura

Kuo-Yi Lim selaku Managing Partner Monk’s Hill Ventures menyatakan populasi kelas menengah menjadi kekuatan ekonomi tersendiri di Asia Tenggara. Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya model bisnis yang bagus bagi startup untuk dapat bertahan di tengah persaingan. Menurutnya, salah satu tanda sebuah startup memiliki model bisnis yang baik adalah menawarkan produk atau layanan yang menjadi solusi bagi masalah yang ada di masyarakat.

“Indonesia adalah salah satu contoh sukses investasi yang berkembang. Saat ini juga ada peningkatan energi dan aktivitas wirausaha di Vietnam.  Di luar dua negara itu, pasar Asia Tenggara sebenarnya tak terlalu besar,” ujar Lim.

Monk Hill’s Ventures adalah perusahaan modal ventura yang berinvestasi di tahap awal, khususnya post-seed pada startup teknologi di Asia Tenggara. Sejumlah startup yang ada di portfolionya antara lain CekAjaGlintsKulinaWaresix, dan masih banyak lainnya.

read also

Founding Partner Golden Gate Ventures Vinnie Lauria menyatakan, pertambahan populasi kelas menengah mengakibatkan peningkatan konsumsi per kapita. Ia menilai Peningkatan daya beli menjadi salah satu momentum baik bagi startup untuk memasarkan usaha masing-masing.

“Selama lima hingga enam tahun terakhir, negara di Asia juga mengalami perkembangan internet yang cukup pesat. E-commerce mengambil peran yang cukup besar di kawasan ini, tetapi baru menjangkau tiga persen dari total transaksi retail,” ungkap Lauria. “Masih banyak potensi yang bisa kembangkan.”

Lauria menambahkan, biasanya sebuah startup membutuhkan waktu setidaknya 8-10 tahun untuk mencapai kesuksesan. Lokalisasi juga memainkan peranan penting bagi perusahaan teknologi dalam memasarkan produk masing-masing.

Ia menilai penawaran saham ke publik (IPO) belum jadi strategi exit yang populer di antara para pendiri perusahaan teknologi di Asia, khususnya Asia Tenggara. Meski demikian, aksi korporasi seperti akuisisi startup lain yang lebih kecil untuk bergabung ke dalam ekosistem berjalan cukup agresif. Lauria menyebut Gojek sebagai salah satu perusahaan yang aktif mencaplok perusahaan lain untuk meningkatkan valuasi bisnisnya.

East Ventures Founder

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menyatakan iklim investasi startup di Indonesia saat ini cukup stabil. Selain memiliki kelas menengah yang cukup besar dan cenderung mudah untuk diakusisi, dukungan besar dari pemerintah terhadap ekonomi digital juga memainkan peran tersendiri.

“Valuasi startup terus meningkat. Hal ini berarti adanya pasokan yang lebih banyak dari permintaan sehingga valuasi meningkat. Pada akhirnya kami tidak hanya berinvestasi, tetapi juga memantau peningkatan valuasi startup,” ungkapnya.

Cuaca menambahkan, pada 2017 lalu analisis internal perusahaannya menunjukkan sebanyak 70 persen pendanaan Seri A bagi startup di Indonesia mengalir dari East Ventures. Membaca data tersebut, pihaknya lalu membentuk dana kelolaan baru bernama EV Growth yang merupakan prusahaan patungan antara East Ventures, SMDV, dan YJ Capital Inc untuk merespons kebutuhan pendanaan di tingkat pertumbuhan, dengan putaran pendanaan pertama senilai Rp2,9 triliun.

Jumlah kesepakatan meningkat, tapi nominal turun

Capital Invested in SEA | Chart

Laporan bertajuk Southeast Asia Tech Investment H1-2019 yang dipublikasikan Cento Ventures menyatakan tren pendanaan perusahaan rintisan, baik di regional Asia Tenggara maupun Indonesia, pada paruh pertama tahun ini sama-sama mengalami penurunan dari tahun lalu.

Nilai total investasi perusahaan rintisan di Asia Tenggara hampir menyentuh US$6 miliar (sekitar Rp85 triliun) sepanjang paruh pertama 2019, menurun 27 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$8,3 miliar (Rp117 triliun). Sementara investasi yang terhimpun di Indonesia mencapai US$679 juta (Rp9,6 triliun), anjlok dari semester pertama tahun lalu yang mencapai US$4 miliar (Rp56 triliun).

Dalam laporannya, Cento Ventures menyebut Indonesia dan Singapura masih menyerap mayoritas investasi perusahaan rintisan yang ada di Asia Tenggara, diikuti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina yang mengalami peningkatan.

 

Sumber Techinasia

5 Kota Paling Aktif Melahap Bisnis Online di Indonesia, Mana Saja ?

detalase

Jumlah online shopper di Indonesia terus meningkat selama 3 tahun terakhir. Di tahun 2018 jumlah online shopper diperkirakan mencapai 11.9 persen dari jumlah populasi di Indonesia.

Menurut Olivia Adinda Putri, PR & Communications Manager CupoNation, pada 2017 dan 2018, pendapatan pasar ecommerce terbesar di kontribusikan oleh fashion, toy hobby & DIY, dan Furniture Appliances. Perkembangan bisnis ecommerce di Indonesia terbilang bagus, dimana, tercatat jumlah online shopper terus meningkat selama 3 tahun terakhir.

Portal diskon tanah air CupoNation menganalisa tentang beberapa perkembangan ecommerce di indonesia dan sektor apa saja yang paling banyak memberikan kontribusi pada total pendapatan pasar ecommerce Indonesia di tahun 2017 dan 2018.

Dari persentase yang didapat dengan membagikan jumlah populasi dan jumlah online shopper di Indonesia dari tahun 2016-2018, maka diketahui jumlah online shopper terus mengalami peningkatan selama 3 tahun berturut-turut.

Dimana pada tahun 2016, jumlah pembeli online mencapai 9.6% dari jumlah populasi dan mengalami peningkatan hingga 10.7% di tahun 2017. Di tahun 2018, angka persentase kembali meningkat dan diperkirakan akan mencapai 11.9% dari jumlah populasi di Indonesia.

Jika dilihat dari data statistik ada 5 sektor yang memberikan kontribusi paling besar pada jumlah pendapatan pasar ecommerce di Indonesia setiap tahunnya. Dimana, selama 2 tahun berturut-turut yaitu 2017 -2018 jumlah pendapatan pasar ecommerce terbesar di kontribusikan oleh Fashion, Toy Hobby & DIY, dan Furniture Appliances;

Meskipun pendapatan pasar ecommerce di Indonesia terlihat stabil di 3 tahun terakhir dengan total pendapatan mencapai US$6,1 Miliar (2016), US$7,5 Miliar (2017) dan US$ 9,1 Miliar (2018). Namun persentase pertumbuhan mengalami sedikit penurunan pada tahun 2018 hingga 1.3% jika dibandingkan dengan tahun 2017. Penurunan ini disebabkan oleh sektor Toys, Hobby & DIY.

Meskipun jumlah pendapatan untuk sektor Toys, Hobby & DIY berkembang sampai dengan US$445 Juta, namun laju pertumbuhan untuk kategori ini mengalami penurunan yang signifikan hingga 4.61% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Diantara kategori yang mengalami penurunan seperti Fashion (0.75%), dan Food & Personnal Care (0.70%). Masih ada beberapa kategori yang memiliki potensi untuk berkembang seperti Electronics & Media dengan laju pertumbuhan 0.14% dan Furniture & Appliances dengan pertumbuhan yang stabil (0.01%) selama dua tahun terakhir.

Berdasarkan jumlah populasi di setiap kota Indonesia yang diperoleh dari Indexmundi, maka diperoleh 5 daerah di Indonesia dengan populasi terbanyak dan pebelanja online teraktif yang jika diurutkan adalah:

1. DKI Jakarta (4%)
2, Surabaya (1.1%)
3. Medan (1%)
4. Bandung (0.9%)
5. Semarang (0.6%)

5 daerah yang paling banyak memberikan kontribusi pada jumlah pendapatan pasar ecommerce di Indonesia adalah DKI Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Semarang.

Selain itu dari hasil laporan priceza sebuah yang juga pelaku marketplace di Indonesia menunjukkan catatan menarik terkait bisnis online di Indonesia yakni :

Selama 3 tahun berturut-turut, komposisi nama kota yang menjadi sumber utama kunjungan tidak berubah sama sekali. Mereka adalah Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.

Komposisi ini pun menduduki peringkat yang nyaris selalu konsisten sesuai urutan tersebut. Ada sedikit pengecualian di tahun 2016, Ketika Bandung berhasil menggeser Medan di peringkat ketiga, namun dengan selisih yang begitu tipis.

Terakhir, menarik untuk dicermati bahwa urutan kota-kota ini pun mencerminkan peringkat dalam hal populasi. Inilah lima kota terbesar di Indonesia dalam hal populasi, yang juga seragam dengan urutannya dalam hal kota dengan pembelanja online terbanyak.

Sebagai tambahan, menarik untuk dicermati bahwa ada tren kenaikan dari kelima kota tersebut dari tahun ke tahun. Di 2015, kota-kota tersebut berkontribusi tidak sampai 50% dari total kunjungan. Sedangkan di tahun 2017 kondisinya berubah drastis, di mana 80% lebih kunjungan berasal dari kota terbesar di Indonesia.

Diolah dari sumber :

Toppreneur.id; tribunbanjarmasin.

Riset Google : Ekonomi Digital Indonesia Capai $40 Miliar, Bisnis E-commerce Beri Sumbangsih Terbesar

Ekonomi-Digital-Untuk-Indonesia-Lebih-Sejahtera

Google dan Temasek kembali merilis laporan tahunannya menyorot perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara. Bertajuk e-Conomy SEA 2019, ada beberapa hal menarik disorot dalam laporan. Sejak tahun 2015 tercatat pertumbuhan jumlah pengguna internet mencapai 100 juta orang –penambahan satu tahun terakhir mencapai 10 juta. Untuk tahun 2019 jumlah pengguna internet di Asia Tenggara mencapai 360 juta orang. Pengguna baru hadir sebagian besar dari demografi usia 15-19 tahun.

Pertumbuhan tersebut turut memberikan sumbangsih pada pertumbuhan ekonomi internet/digital. Tahun 2019 tercatat nilainya mencapai $100 miliar, diproyeksikan akan mencapai $300 miliar pada tahun 2025 mendatang. Prakiraan tersebut meningkat, setelah laporan tahun lalu memprediksi angkanya akan sampai $240 miliar saja – tahun 2018 nilainya $72 miliar.

Ditinjau dari sub-sektor industri internet, alokasi jumlah pengguna paling banyak masuk ke kategori online game (180 juta pengguna aktif), dilanjutkan e-commerce dan ride-hailing. Angka tersebut diperkuat dengan tren esports yang memang terus berkembang di kawasan ini – secara bisnis masih terus mencari jati diri dengan model bisnis yang terus berevolusi, dari sekadar permainan game biasa.

e-Conomy SEA 2019

Permintaan layanan ride-hailing juga memberikan dampak berarti. Sejak tahun 2015, laporan mencatat pertumbuhan jumlah pengguna mencapai 5x lipat. Ditinjau dari pemain industri, Grab dan Gojek yang tengah mencoba untuk terus memenangkan pasar regional. Keduanya secara konsisten menggalang pendanaan baru untuk menguatkan ekspansi di tiap negara.

Indonesia masih mendominasi

Ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai $130 miliar pada tahun 2025 mendatang, tahun ini angkanya sudah mencapai $40 miliar – rata-rata pertumbuhannya 49% per tahunE-commerce dan ride-hailing menjadi pendorong utama di kawasan ini; ditambah adopsi pembayaran digital yang mendominasi semua layanan berbasis aplikasi. Pertumbuhan bisnis terkait didukung investasi yang terus mengalir. Termasuk dukungan yang diberikan pada unicorn Indonesia, nilainya mencapai $4 miliar pada tahun 2018 lalu.

e-Conomy SEA 2019

Dibandingkan enam negara lain yang turut mendapat lonjakan tinggi dari ekonomi internet, Indonesia memang memiliki signifikansi lebih dari sisi nilai. Ditinjau dari luas geografis dan total populasi perbandingannya memang sangat jauh. Vietnam digadang-gadang sebagai pangsa pasar terbesar kedua setelah Indonesia. Pebisnis digital mulai memperhatikan wilayah tersebut untuk memantapkan bisnis. Beberapa perusahaan digital besar di Indonesia –sebut saja Gojek dan Traveloka—juga telah debut di sana.

Dalam laporannya, Google-Temasek selalu menyoroti e-commerce, online travel, online media, dan ride-hailing. Empat sektor utama tersebut dianggap memiliki peran besar dalam mentransformasi bisnis di wilayah Asia Tenggara –sebagai lokomotif sekaligus gerbang ekonomi digital. Di Indonesia sendiri, platform e-commerce dan ride-hailing telah mampu menghadirkan banyak kesempatan baru, khususnya dalam rangka mendorong UKM untuk naik kelas dan membuka kesempatan kerja lebih luas.

e-Conomy SEA 2019

Indonesia mendapatkan momentum, sekurangnya jumlah pengguna internet tahun ini mencapai 152 juta pengguna, telah melebihi dari total populasi. Tahun lalu sektor online travel masih memimpin perolehan, tahun ini giliran e-commerce. Peningkatan e-commerce dari tahun 2015 mencapai 88%, tahun ini angkanya (GMV – Gross Merchandise Volume) sudah mencapai $21 miliar. Sementara untuk online travel masih berada di $10 miliar. Ride-hailing mendapatkan porsi $6 miliar.

Terpusat di area metro

Sorotan lain yang turut disampaikan dalam laporan mengenai sebaran ekonomi internet di kawasan tersebut. Riset membandingkan antara putaran ekonomi yang terjadi di area metro atau pusat perkotaan, sebagian besar mengungguli berkali-kali lipat daerah lain. Di Indonesia misalnya, GMV per kapita untuk ekonomi internet yang terjadi di Jabodetabek mencapai $555 sementara di luar kawasan itu hanya di angka $103.

e-Conomy SEA 2019

Sementara secara keseluruhan populasi di Asia Tenggara yang berada di kawasan metro hanya 15% dari total. Namun beberapa startup digital memiliki “misi mulia” untuk menjangkau kawasan rural. Seperti di Indonesia, penetrasi aplikasi pembayaran digital banyak ditargetkan untuk menjangkau pengguna unbankable. Termasuk beberapa e-commerce yang mencoba mengakomodasi produk-produk dari UKM di daerah.

Sumber : Dailysosial.

Tren Personalisasi Iklan di Indonesia

personal

Pernahkah anda mengetik keyword tertentu di google, lalu anda akan menjumpai iklan yang mirip dengan apa yang anda cari tadi di media sosial yang anda miliki ? sadar atau tidak search engine telah disetting sedemikian rupa untuk dapat membaca perilaku kita, agar kita mendapat feedback yang lebih personal atas apa yang sedang kita cari.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, perusahaan teknologi berlomba mengadopsi big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memperkirakan, layanan yang dipersonalisasi juga akan menjadi tren di Indonesia. Riset Technavio pada 2017 menyebutkan, nilai pasar dari layanan yang dipersonalisasi secara global akan mencapai US$ 31 miliar atau sekitar Rp 437,1 triliun pada 2021.

Alasannya, platform seperti e-commerce menyajikan beragam produk konsumen. Alhasil, konsumen butuh layanan dan tampilan platform yang sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itu, perusahaan akan melakukan personalisasi layanan guna menggaet konsumen yang lebih banyak lagi. Terlebih hasil riset facebook menyebut mayoritas responden batal berbelanja karena iklan tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Studi tersebut bertajuk Zero Friction Future, yang dikerjakan Facebook bersama Boston Consulting Group (BSC) dan Growth for Knowledge (GfK). Berdasarkan riset itu, 94% masyarakat Indonesia menemukan friksi atau hambatan saat berbelanja. Alhasil, 54% di antaranya batal berbelanja. Friksi yang dimaksud, seperti iklan yang tidak relevan dengan keinginan konsumen, kurangnya informasi atau ulasan terkait suatu produk hingga rumitnya proses transaksi. Ketidaktahuan pelaku usaha mengenai keinginan konsumen ini membuat mereka kehilangan pendapatan.

Perusahaan teknologi yang sudah menerapkan personalisasi diantaranya seperti Gojek, Grab, Shopee, Lazada, dan lain lain. Adapun perusahaan pengembang media sosial yang juga melakukan personalisasi atas iklannya yakni Instagram dan Facebook   dengan tujuan iklan lebih tepat sasaran. Karenanya, iklan yang tampil di setiap akun akan berbeda, tergantung kebiasaan masing-masing pengguna.

Riset Deloitte pada 2015 menunjukkan, konsumen bersedia membayar 10-50% lebih banyak untuk produk yang dipersonalisasi. Hasil studi menunjukkan beberapa produk yang diharapkan konsumen untuk disesuaikan dengan kebutuhannya adalah perlengkapan rumah tangga, busana, otomotif, mainan dan gim, kosmetik, makanan dan minuman, dan produk kesehatan. Personalisasi sangat berpengaruh dalam menciptakan pengalaman konsumen yang lebih baik. Strategi ini juga dinilai bisa meningkatkan loyalitas konsumen dan sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis dan penetrasi ke pasar (speed to market). Jadi jangan heran kalau semakin kesini iklan iklan yang kita temui akan semakin personal, karena memang pelaku bisnis ingin menyajikan iklan yang relevan sehingga tingkat ketertarikan untuk membeli sebuah produk meningkat.

sumber : katadata.co.id/ Cindy M Annur